nenk tya

nenk tya
scorpio_girl

Kamis, 12 Januari 2012

Makalah "Kartun dan Poster"

BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Pendidikan merupakan pendewasaan peserta didik agar dapat mengembangkan bakat, potensi dan keterampilan yang dimiliki dalam menjalani kehidupan, oleh karena itu sudah seharusnya pendidikan didesain guna memberikan pemahaman serta meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Prestasi belajar siswa di sekolah sering di indikasikan dengan permasalahan belajar dari siswa tersebut dalam memahami materi. Indikasi ini dimungkinkan karena faktor belajar siswa yang kurang efektif, bahkan siswa sendiri tidak merasa termotivasi di dalam mengikuti pembelajran di kelas. Sehingga menyebabkan siswa kurang atau bahkan tidak memahami materi yang bersifat sukar yang diberikan oleh guru tersebut. .[1]
Kecenderungan pembelajaran yang kurang menarik ini merupakan hal yang wajar dialami oleh guru yang tidak memahami kebutuhan dari siswa tersebut baik dalam karakteristik, maupun dalam pengembangan ilmu. Dalam hal ini peran guru sebagai pengembang ilmu sangat besar untuk memilih dan melaksanakan pembelajaran yang tepat dan efisien bagi peserta didik bukan hanya pembelajaran berbasis konvensional. Seiring dengan adanya kemajuan dalam bidang pendidikan, Proses pembelajaran yang baik dan kondusif tidak hanya ditunjang oleh peran guru saja, akan tetapi ada banyak media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. Penggunaan media ini merupakan sarana pendukung yang digunakan oleh guru dalam melaksanakan pembelajaran sebagai upaya untuk mempermudah menyampaikan materi serta mengoptimalkan pemahaman anak didik terhadap materi yang disampaikan, dari sekian banyak media yang ada diantaranya adalah media kartun dan poster.. Hampir semua orang mengetahui tentang kartun dan poster ini, baik dari pengertian, karakteristik maupun kegunaannya, akan tetapi dalam hal ini tidak sedikit orang tahu hanya sebatas pada pengetahuan umumnya saja belum sampai pada kegunaannya dalam proses pembelajaran maupun yang lain. Oleh karena itu dalam makalah ini penulis akan sedikit membahas mengenai dua media ini, yaitu kartun dan poster.
B.            Rumusan Masalah
Dari berbagai hal yang telah penulis uraikan diatas, maka dalam rumusan masalah ini penulis merumuskan beberapa rumusan masalah yang akan di bahas pada bab selanjutnya, beberapa rumusaln maasalah tersebut yaitu:
1.           Pengertian,  karakteristik dan kegunaan kartun dalam pembelajaran
2.           Pengertian, karakteristik dan kegunaan poster dalam pembelajaran



BAB II
PEMBAHASAN
A.           Kartun
1.             Pengertian Kartun
Kartun (Cartoon) berasal dari bahasa Italia cartone yang artinya kertas. Pada mulanya kartun adalah penamaan bagi sketsa pada kertas a lot (stout paper) sebagai rancangan atau desain untuk lukisan kanvas atau dinding[2]. Sedangkan menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai dalam bukunya Pengembangan Media dijelaskan bahwa kartun adalah gambaran dalam bentuk lukisan atau karikatur tentang orang, gagasan atau situasi yang didesain untuk mempengaruhi opini masyarakat. Walaupun terdapat sejumlah kartun yang berfungsi untuk membuat orang tersenyum, seperti halnya kartun-kartun yang dimuat dalam surat kabar. Kartun sebagai alat bantu mempunyai manfaat penting dalam pengajaran, terutama dalam menjelaskan rangkaian isi bahan dalam satu urutan logis atau mengandung makna.[3]
Diantara esensi pesan dari media kartun adalah: penampilan apa adanya, menarik perhatian, dapat mempengaruhi sikap maupun tingkah laku orang yang melihatnya. Gambarnya dalam bentuk sederhana tanpa detail, tetapi menarik dan indah dilihat, menggunakan simbol-simbol komunikasi yang karakternya mudah dikenal, mudah dimengerti secara cepat dan sifatnya familier dengan situasi dan kondisi telah dikenal.





Contoh-contoh kartun:
             
            Gambar.1  
                                                   
                 
                                                            Gambar No.3
 

2.             Karakteristik Kartun Yang Penting
Kartun yang baik hanya mengandung satu gagasan saja. Ciri khas kartun memakai karikatur, sindiran yang dilebih-lebihkan, perlambang dan humor pilihan. Kekuatan kartun untuk dapat mempengaruhi pendapat umum, terletak pada kekompakkannya, penyederhanaan isinya, dan perhatian yang sungguh-sungguh yang dapat dibangkitkan secara tajam melalui gambar-gambar yang mengandung humor.


3.             Memilih dan Menilai Kartun
Ada beberapa kualitas tertentu dari kartun-kartun yang efektif. Pengetahuan mengenai kualitas ini sangat membantu dalam memilih kartun-kartun untuk tujuan pengajaran.[4]
a.       Pemakaiannya sesuai dengan tingkat pengalaman
Pertimbangan pertama adalah, arti kartun hendaknya dapat dimengerti oleh para siswa pada saat kartun tersebut digunakan. Misalnya kartun mengenai peristiwa perang salib, akan kecil artinya bagi siswa SD yang belum mempelajari judul-judul tersebut. Demikian juga banyak guru yang tersentuh melihat kartun tersebut, sebaliknya para siswa mungkin lucu melihatnya. Dalam pada itu, para siswa lain semisal anak SMA mungkin sudah mampu menafsirkan kartun tersebut. Gambar no.1 dan No. 3 diatas cocok digunakan untuk pembelajaran anak SMA, yang mana untuk menemukan makna yang terkandung dalam kartun tersebut membutuhkan penafsiran yang lebih mendalam dan ini sesuai dengan tingkat pengalaman dan perkembangan kognitif anak-anak seusia SMA yang sudah mampu berfikir abstrak dan mendalam. Sedangkan untuk gambar no.2 cocok digunakan untuk pembelajaran anak seusia SD, karena kartun tersebut sangat sederhana, mudah dipahami dan digambarkan secara kongrit makna dan maksud tujuan kartun, dan ini sangatlah sesuai dengan tingkat pengalaman dan  perkembangan kognitif anak usia SD.
b.       Kesederhanaan
Memperkirakan arti kartun dapat dimengerti, berarti ada beberapa perwatakan fisik yang diinginkan dari kartun-kartun yang baik. Satu diantaranya adalah kesederhanaan. Secara umum dapat dikatakan bahwa kartun-kartun yang baik hanya berisi hal yang penting-penting saja. Kartun banyak bergantung pada kunci perwatakan untuk pengenalan terhadap rincian fotografis secara luas. Perwatakan fisik lainnya adalah singkatnya keterangan. Beberapa kartun bahkan tidak memerlukan keterangan sama sekali, karena lukisan sendiri telah menyampaikan gagasan tanpa bantuan kata-kata.
c.       Lambang yang Jelas
Ciri ketiga dari kartun yang efektif adalah kejelasan dari pengertian-pengertian simbolis. Sehubungan dengan itu para guru haruslah berhati-hati dalam memilih kartun-kartun dengan lambang-lambangnya dan tidak terlalu sukar dipahami oleh siswa.
4.           Penggunaan Kartun
a.         Untuk motivasi
Sesuai dengan wataknya kartun yang efektif  akan menarik perhatian serta menumbuhkan minat belajar siswa. Ini menunjukan bahan-bahan kartun bisa menjadi alat motivasi yang berguna di kelas. Beberapa kartun dengan topik yang sedang hangat, bilamana cocok dengan tujuan-tujuan pengajaran, merupakan pembuka diskusi yang efektif. Pertanyaan-pertanyaan  seperti : apakah arti kartun ini? Pesan apakah yang ingin dipaparkan? Kartun-kartun lain manakah yang telah anda lihat dibidang ini?
Contohnya dalam pembelajaran PAI kita dapat menggunakan contoh gambar no.1, yang mana kartun tersebut bertemakan tentang “kelurusan niat” sedangkan dalam hadist disebutkan bahwa segala sesuatu itu tergantung pada niatnya (إنما الأعمال بالنيات), dengan menggunakan kartun tersebut siswa dapat termotivasi untuk menata niat mereka yaitu sekolah bukan semata-mata mencari ijazah akan tetapi yang terpenting adalah untuk menuntut ilmu. Gambar no.2 yang mana kartun tersebut bertemakan tentang kebersihan sedangkan dalam ajaran islam kita tahu bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman (النظفة من الإيمان), sehingga dalam hal ini siswa dapat termotivasi untuk selalu menjaga kebersihan baik pribadi maupun lingkungan sekitar.
b.         Sebagai ilustrasi
Seorang guru melaporkan hasil yang efektif dari penggunaan kartun-kartun dalam menggambarkan konsep pembelajaran PAI. Diantaranya adalah tentang ada tidaknya nilai-nilai keagamaan yang digambarkan dalam kartun.  Namun demikian guru perlu selektif dalam memilih kartun untuk menjaga reaksi lelucon yang murni diantara siswa dan tidak kehilangan perhatian kepada bagian-bagian yang terinci yang tidak ada hubungannya dengan maksud pembuat kartun.
c.         Untuk kegiatan siswa
Jenis lain dari kartun yang dipergunakan adalah kreasi kartun-kartun yang dibuat siswa sendiri. Para siswa membuat kartun untuk menumbuhkan minat dalam kampanye tentang kebersihan,  keadilan, adab makan dan minum, dan lain-lain. Kartun-kartun yang telah dibuat siswa dapat di,anfaatkan dalam proses pembelajaran.
B.            Poster
1.             Pengertian
Poster adalah gambar yang besar, yang memberi tekanan pada satu atau dua ide pokok, sehingga dapat dimengerti dengan melihatnya sepintas lalu.[5] Poster mampu mempengaruhi perilaku, sikap dan tata nilai masyarakat untuk berubah atau melakukan sesuatu. Hal yang membuat poster memiliki kekuatan untuk dicerna oleh orang yang melihat karena poster lebih menonjolkan kekuatan pesan, visual dan warna.[6] Di masyarakat poster lebih banyak digunakan untuk kepentingan propaganda bisnis, promosi, sosial dan penanaman nilai di masyarakat. Misalnya poster yang bertema tentang dilarang merokok, hindari obat-obat terlarang, membeli produk dalam negeri, membeli produk sebuah perusahaan tertentu, gerakan orang tua asuh, gerakan keluarga berencana, budayakan membayar pajak, dan lain-lain. Dengan visualisasi yang kuat dan menyentuh, banyak masyarakat yang tergerak hatinya untuk melakukan seperti yang diinformasikan dalam poster.
Kekuatan poster ini kemudian dimanfaatkan pula untuk kepentingan pembelajaran, banyak poster-poster yang sengaja dipasang di lingkungan sekolah baik di luar kelas atau di dalam kelas yang bertujuan agar siswa dapat berperilaku positif, berdisiplin yang baik, memiliki nilai positif dan memiliki pengetahuan tentang suatu hal. Misalnya: poster tentang mengajak menunaikan ibadah Haji, mengajak Shalat berjama’ah, mengajak untuk menjaga kebersihan,  mengajak untuk membayar zakat mal, dll.
Poster yang dibuat untuk pendidikan pada prinsipnya merupakan gagasan yang diwujudkan dalam bentuk ilustrasi objek gambar yang disederhanakan yang dibuat dengan ukuran besar. Tujuannya untuk menarik perhatian, membujuk, memotivasi atau memperingatkan pada gagasan pokok, fakta atau peristiwa tertentu. Poster perlu didesain dengan memperhatikan perpaduan antara kesederhanaan dan dinamika yang ada ditambah dengan warna yang mencolok dan kekontrasan yang tinggi sehingga mudah tebaca dan menarik perhatian.                                  
Contoh-contoh poster:                                            
                        
            Poster No.1                                                             
                                                       
                   
                                                        
2.             Karakteristik Poster
Poster yang baik harus dinamis, menonjolkan kualitas. Poster harus sederhana tidak memerlukan pemikiran bagi pengamat, segera dapat ditangkap pandangan orang dan menamkan kepadanya pesan yang terkandung dalam poster itu. Pesan yang disampaikan harus jelas sepintas lalu, atau dapat menarik perhatian orang yang lewat untuk berhenti sebentar mengamatinya. Kalau tidak demikian poster itu tidak ada faedahnya, sebab saat ini sedikit orang yang rela membuang waktu untuk memperhatikan sebuah poster, kecuali kalau poster itu memang menarik. Poster-poster itu harus dapat menyerukan “LIHAT AKU”.[7]
Keberhasilan sebuah poster banyak juga tergantung dari kalimat untuk menyatakan pesan yang akan disampaikan. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan kalimat ialah kalimat tidak boleh banyak dan tidak boleh panjang. Lebih baik tujuh kata daripada tujuh kalimat. Kata-kata harus dapat dimengerti secara cepat, sesuai dengan sifat poster dan harus menjadi bagian tak terpisahkan dari keseluruhan dan bukan sebagai tambahan saja. Bentuk huruf harus sederhana dan cukup besar untuk dapat dibaca dari jauh. Bentuk huruf yang aneh-aneh akan membingungkan dan membuat orang engggan membacanya. Kalimat yang digunakan diutarakan dalam bahasa yang sederhana, popular, familier dan akrab.
Poster hendaknya tidak dipajang dalam waktu lama, karena mengingat bahwa manusia itu lekas terbiasa dengan lingkungannya, sehingga besar kemungkinan ia tidak lagi mempedulikannya lagi dan daya tarik posterpun lenyap, sehingga tidak berarti apa-apa lagi.
3.             Penggunaan poster dalam pembelajaran
a.     Memotivasi siswa, dalam hal ini poster dalam pembelajaran sebagai pendorong atau memotivasi siswa. Pesan poster tidak berisi informasi umun, namun berupa ajakan, renungan, persuasi agar siswa memiliki dorongan yang tinggi untuk melakukan sesuatu diantaranya Sholat Berjama’ah, menjaga kebersihan, Rajin belajar,dll.
b.    Peringatan
Dalam hal ini poster berisi tentang peringatan terhadap suatu pelaksanaan aturan hukum, aturan sekolah atau peringatan-peringatan tentang sosial, kesehatan bahkan keagamaan. Misalnya “Buanglah sampah pada tempatnya”, atau “kebersihan sebagian dari iman”, “sudahkah anda shalat sebelum dishalatkan”, dll.
c.     Pengalaman kreatif
Proses belajar mengajar menuntut keatifitas siswa dan guru, pola pembelajaran klasikal yaitu siswa hanya diberi informasi dari guru saja, tidak membuat pembelajaran lebih baik dan kreatif. Melalui poster pembelajaran bisa lebih kreatif, siswa ditugaskan untuk membuat ide, cerita, karangan dari sebuah poster yang dipajang. Diskusi kelas akan lebih hidup manakala guru menggunakan alat bantu poster sebagai bahan diskusi.


BAB III
PENUTUP
A.           Kesimpulan
Kartun dan poster merupakan contoh dari bermacam-macam media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran, yang mana disini kartun dan poster berperan untuk mempermudah siswa dalam memahami materi yang disampaikan. Kartun dan poster yang di dalamnya terdapat unsur gambar dan beberapa kata yang cukup menarik, unik dan variatif  sangatlah disukai oleh anak-anak, sehingga dalam proses pembelajaran anak tidak akan merasa jenuh atau bosan dan dengan adanya keunikan dan kevariatifan baik dari segi kata-kata yang mengandung maka/ pesan tertentu serta dari segi gambarnya akan memudahkan memori anak untuk mengingatnya dalam jangka waktu yang cukup lama.
B.            Saran
Seorang guru/ pendidik alangkah baiknya jika dalam proses pembelajaran tidak hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri, akan tetapi juga menggunakan berbagai media yang ada serta cocok dengan materi dan indikator/tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan sehingga dengan penggunaan media ini tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.



DAFTAR PUSTAKA
Daryanto. 2010. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Gaya Media
Munadi, Yudhi. 2008.  Media Pembelajaran. Ciputat: Gaung Persada
Sanaky, Hujair Ah. 2009. Media Pembelajaran. Yogyakarta: Safira Insania Press
Sudjana, Nana, dkk. 2007. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algesindo



[1] Drs. Daryanto. Media Pembelajaran, (Yogyakarta: Gaya Media), 2010,  Hal. 3
[3] Drs. Nana Sudjana dkk, Media Pengajaran, (Bandung: Sinar Baru Algesindo), 2007, Hal. 58
[4] Ibid., hal. 59
[5] Yudhi Munadi, Media Pembelajaran, (Ciputat: Gaung Persada), 2008, Hal. 102
[6] Drs. Daryanto, Media Pembelajaran, (Yogyakarta: Gaya Media), 2010 Hal. 129
[7] Yudhi Munadi, Media Pembelajaran, (Ciputat: Gaung Persada), 2008, Hal. 102

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar